Rupa Ibu Kota

Kerasnya Hidup di Jakarta Membuat Wandi Terpaksa Tinggal di Perahu Eretan

Sabtu, 15 September 2018 19:01 WIB
TribunJakarta

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Elga Hikari Putra

TRIBUN-VIDEO.COM, KEBON JERUK - Kerasnya hidup di Jakarta membuat Wandi (48) terpaksa tinggal di atas perahu eretan yang sekaligus tempatnya mencari nafkah di Kali Sodetan Sekretaris, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Pria yang sudah lima tahun menjadi penarik eretan di tempat ini mengatakan penghasilannya tak mencukupi bila harus menyewa kontrakan di Jakarta.

Selain itu, hal itu lantaran ia hanya seorang diri merantau ke Jakarta.

Sedangkan kedua anak dan istrinya berada di kampung halamannya di Brebes, Jawa Tengah.

Menjadi penarik perahu eretan yang sudah mulai ditinggalkan oleh kemajuan zaman, Wandi mengatakan dirinya rata-rata mengantongi uang Rp 80 ribu perharinya.

"Kalau musti ngontrak duitnya enggak cukup. Sekarang yang naik eretan sudah enggak kayak dulu semenjak orang udah pada punya motor sendiri," kata Wandi saat berbincang dengan TribunJakarta.com, Jumat (14/9/2018).

Pantauan wartawan TribunJakarta.com, ‎tumpukan pakaian milik Wandi diletakkan di sebuah laci yang ada di bagian atas perahu.

Sedangkan pakaiannya yang baru dicucinya sedang dijemur di atas seutas tali tambang yang ia gantung di bagian luar perahunya.

Baca: Melihat Petugas UPK Badan Air DKI Jakarta Mengangkut 8 Ton Sampah dari Kali Sodetan Sekretaris

Sebuah terpal berwarna biru menjadi atap dari perahu berukuran 2x10 meter ini‎ untuk melindunginya dari terik matahari.

Wandi mengatakan dirinya tidur beralaskan kursi kayu yang biasa penumpang duduki saat melintas di perahu eretan miliknya.

‎"Kalau tidur ya di sini juga. Tapi eretannya saya taruh di tengah jadinya enggak ada orang yang bisa naik. Nanti kalau sudah bangun baru saya taruh di pinggir lagi," kata Wandi.

Tak hanya tidur, aktivitas makan pun dilakukan Wandi di atas perahu eretannya.

Sedangkan untuk keperluan mandi dan buang air, Wandi harus membayar Rp 100 ribu per bulan ke pengelola toilet umum yang ada di dekat Pasar Pesing.

"Makan saya beli di warung tapi makannya di sini juga. Jadi kalau lagi makan ada orang yang mau nyebrang ya tetap bisa saya anterin," kata Wandi.

Setiap harinya, Wandi mengaku sudah mulai membuka jasa perahu eretan sejak Subuh hingga Pukul 23.00 WIB.

‎Ia menyeberangkan penumpang yang ingin melintas dari arah kampung Pesing Kidul menuju Pasar Pesing maupun sebaliknya.

Menggunakan tangannya ia menarik besi eretan yang menyangkut di perahunya untuk menyeberangi kali selebar sekira 40 meter.

Sekali jalan, penumpang cukup dikenakan biaya Rp 1000 meskipun ada yang memberinya lebih sampai Rp 2000-5000.

"Ramainya itu kan pagi karena banyak yang mau pada ke pasar. Kalau siang mah paling cuma satu-dua orang aja yang lewat. Nanti ramai lagi pas sore," kata Wandi yang mengaku sudah terbiasa tidur di atas kali ini.(*)

TONTON JUGA:

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Alfin Wahyu Yulianto
Sumber: TribunJakarta
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018 About Us Help