Kebakaran Hutan

Kesaksian Relawan di Gunung Sindoro, Tanpa Air Mereka Berbekal Ranting untuk Padamkan Api

Rabu, 12 September 2018 22:30 WIB
Tribun Jateng

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Khoirul Muzakki

TRIBUN-VIDEO.COM, WONOSOBO - Toang harus merelakan sepatu trekkingnya yang rusak karena menginjak material panas saat memadamkan api di Gunung Sindoro.

Panas api dari kebakaran pohon dan rumput hutan sampai menjalar ke tanah atau bebatuan di sekitarnya. Tak ayal, panas api tetap menembus kulit hingga karet sepatu meleleh.

Meski maut mengancam, Toang dan teman-temannya pantang mundur untuk menaklukkan si jago merah. Bagaimanapun, kobaran api harus diredam agar tak meluas hingga mematikan ekosistem hutan.

Ini sekaligus pembuktian akan status pecinta alam yang disandangnya. Saat alam dilukai, ia pasang badan untuk melindungi.

Meski memadamkan api di hutan tak semudah yang dibayangkan. Tak ada sumber air di gunung yang bisa dimanfaatkan untuk menjinakkan api.

Membawa air dari bawah pun tak mungkin karena butuh beberapa jam untuk sampai di lokasi kebakaran yang hampir mencapai puncak.

Ia bersama petugas maupun relawan lain akhirnya menggunakan cara konvensional dengan memanfaatkan bahan alam untuk menjinakan api.

Dahan pohon yang masih rimbun ranting maupun daunnya jadi senjata bagi mereka untuk melumpuhkan api.

Mereka menggebukkanya berulangkali ke kobaran api hingga mati. Pekerjaan itu tentu saja menguras energi. Karena kobaran api begitu panjang, sejauh mata memandang.

Api yang telah padam bukan berarti lenyap sama sekali. Bara yang tertinggal mudah tersulut kembali. Energi panas pun memungkinkan masih tersimpan di dalam tanah atau akar yang kasat mata.

Sedikit saja terkena percikan, tanaman hutan yang kering karena kemarau mudah sekali terbakar. Percikan api bahkan bisa tercipta dari gesekan ranting atau bebatuan kering.

Tak ayal, titik api yang ditinggalkan karena sempat padam, berkobar lagi karena tiupan angin atau efek percikan. 

Begitu seterusnya hingga mereka tak tahu kapan pekerjaan itu selesai.

Tak jarang, saat relawan turun dengan nafas lega karena meyakini api padam, dibuat pasrah karena gunung kembali menyala.

"Sudah padam, terus kami pindah ke titik lain, nah yang tadi padam nyala lagi,"katanya

Karena itu wajar, meski mereka telah bersusah payah memadamkan, titik api masih saja muncul, baik di lahan lama maupun menjalar ke lahan baru.

Lahan terbakar yang mulanya sekitar 7 hektar di titik api awal Petak 7B terus meluas hingga ratusan hektar sampai sekarang.

Data sampai Selasa siang (12/9), yang dihimpun basecamp saja menunjukkan, areal hutan Gunung Sindoro yang terbakar mencapai 315,9 hektar. 200,9 di antaranya masuk wilayah Temanggung, dan 115 hektar masuk wilayah Kabupaten Wonosobo.

Angka itu dimungkinkan terus bertambah mengingat siang hari ini, Rabu (13/9), titik api masih terlihat di Petak 10-5, dekat aset peralatan pemantau Gunung Sindoro.

Padahal beragam siasat telah dilakukan untuk meredam kobaran api agar tak semakin menyebar. Di antara yang cukup efektif adalah membuat parit untuk melokalisasi kobaran api.

Baca: Ditanya Pilih Jokowi atau Prabowo, Begini Jawaban dan Saran Cak Nun

Relawan dari basecamp Sigedang Kejajar Lukman mengatakan, untuk memutus laju api agar tak menyebar, relawan menggali tanah di batas kobaran api.

Ilalang atau tanaman hutan lain di sekitar parit dibabat secukupnya agar tak tersambar api.

Dengan begitu, api hanya tertahan di lahan yang terlanjur terbakar hingga pergerakannya terputus.

"Rumput dan semak di sekitarnya dibabat sehingga api kehabisan bahan bakar dan terputus,"katanya

Penyebab kebakaran hingga saat ini masih misteri. Namun melihat karakteristik sumber api, Ketua Basecamp Sigedang Alimin menduga kebakaran itu karena ulah oknum yang ingin membuka lahan dengan cara tak bertanggung jawab.

Kebakaran hutan memang bisa dipengaruhi banyak faktor. Di musim kering, gesekan ranting atau bebatuan yang menggelinding bisa menghasilkan percikan api hingga memicu kebakaran.

Bisa juga karena ulah manusia yang sengaja maupun tidak, membuang puntung rokok hingga mengenai tanaman kering.

Tetapi di antara tiga kemungkinan itu, ia yakin kebakaran itu lebih disebabkan unsur kesengajaan. Temuan sejumlah alat pertanian di titik api pertama menguatkan dugaannya akan hal itu.

Kebakaran berawal dari hutan di Petak 7B atas Sibajag Candiroto Temanggung lalu meluas ke titik lain hingga hampir mencapai puncak.

"Kalau alami misal karena gesekan batu, itu biasanya sumber api dari atas. Ini sumbernya dari bawah, dekat lahan yang sudah diolah," katanya. (*)

TONTON JUGA:

Editor: Radifan Setiawan
Sumber: Tribun Jateng
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved