Piringan Hitam Asian Games 1962 Masih Terawat di Museum Lokananta Solo

Jumat, 7 September 2018 22:53 WIB
TribunSolo.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Jumat pagi (7/9/2018) suasana tampak cukup lengang di halaman Lokananta, salah satu lokasi paling bersejarah di Indonesia.

Bagi para pemerhati musik dalam negeri, nama tersebut mungkin tak terasa asing lagi.

Ya, nama-nama legendaris seperti Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, hingga Bing Slamet pun "lahir" karena keberadaan Lokananta.

Karena legenda yang dituliskannya, gedung yang beralamat di Jalan Ahmad Yani No. 379 ini bisa dibilang menjadi saksi bisu pasang surutnya industri musik di tanah air.

Setelah mengambil beberapa gambar di depan gedung tua tersebut, Tribun pun diajak masuk oleh salah satu pemandu yang ada, yakni Sriyono Ali Maskuri.

Tribun langsung diajak berkeliling ke dalam Lokananta dengan ruang display gamelan sebagai pusat atensi pertamanya.

Saat mendapatkan penjelasan soal gamelan dari Jaman Diponegoro yang dipajang di salah satu sudut gedung bersejarah tersebut, Sriyono kemudian juga menjelaskan pemilihan nama Lokananta.

Istilah Lokananta ternyata berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "Gamelan di Kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh" dianggap asing di telinga khalayak umum ini kemudian menjadi gaung yang terdengar di seantero nusantara usai mereka disahkan berdiri pada tanggal 29 Oktober 1956.

Lokananta berdiri dengan nama resmi Pabrik Piringan Hitam Lokananta.

Baca: Ditaklukkan Selangor FA, Stefano Cugurra akan Mengevaluasi 22 Pemainnya

Diprakarsai oleh Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero, pegawai RRI Surakarta, Lokananta diadakan guna mengisi fungsi sebagai studio rekaman pendukung Radio Republik Indonesia.

Usai mendengar sedikit terkait sejarah awal berdirinya Lokananta ini, Tribun diajak untuk melihat ruangan display rekaman yang ada.

Di ruangan ini, tampak terpajang beberapa piringan hitam yang diproduksi oleh Lokananta sendiri.

Ya, di awal mula berdirinya, Lokananta mulai menjual piringan hitam secara mandiri untuk masyarakat umum.

Sekitar 5 tahun usai berdirinya Lokananta, pemerintah pun mengekspansi bidang yang diampu oleh perusahan rekaman milik negara tersebut.

Dalam PP No. 215/1961 tugas Lokananta ditambahkan oleh pemerintah untuk berfokus pada usaha rekaman lagu daerah.

Rekaman lagu dan musik daerah yang beredar pada periode ini antara lain Gamelan Setia Manag dan Klenengan Ganda Mekar (Sunda), Orkes Dasa Rama (Sulawesi), dan Lena Tien dkk. (Sulawi dan Sumatera).

Usai melihat beberapa potongan sejarah musik di ruang display piringan hitam dan kaset, Tribun kemudian beralih di ruangan pemajangan peralatan rekaman.

Baca: Diskon dan Promo Setiap Pembelian Pertamax Turbo Pakai Kartu Bank Mandiri, Ini Syarat dan Lokasinya

Di ruangan ini, kami diperlihatkan beberapa peralatan analog yang kini sudah "dipensiunkan" oleh pihak Lokananta.

Kami mendengar cerita terkait evolusi media musik di tanah air dan masa-masa sulit yang dialami Lokananta.

Sambil memperlihatkan alat untuk memproduksi kaset, Sriyono menceritakan peralihan media yang dialami Lokananta.

Usai booming di awal berdirinya, piringan hitam kemudian ditinggalkan Lokananta pada periode 1970-an.

Pada periode ini, Lokananta mengadopsi teknologi cetak kaset karena penjualan piringan hitam yang terus menurun drastis.

Di masa jayanya tersebut, Lokananta bahkan dapat mencetak dan menjual hingga 100 ribu kaset dengan album "Entit" milik Waldjinah sebagai pionir terdepan di era kaset tersebut.

Namun, perlahan Lokananta kian tergerus dengan maraknya pembajak musik yang muncul di era 1980-an yang terpicu karena mudah diaksesnya media untuk menggandakan kaset.

Puncak keterpurukan pun dialami Lokananta pada tahun 1999 di mana Presiden Abdurahman Wahid membubarkan Departemen Penerangan yang selama ini menjadi induk dari lokananta.

Lokananta yang nasibnya terombang-ambing kemudian menemui lagi titik terang di tahun 2004, kala mereka masuk menjadi bagian dari Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) dengan nama PNRI cabang Surakarta-Lokananta.

Baca: Cerita Suryanto, Penggemar Vespa yang Ubah Vespanya Jadi Mirip Tank Tempur

Seusai melihat isi display yang ada dan mendengar cerita terkait kerasnya cobaan yang harus dihadapi Lokananta, kami mengunjungi ruangan studio rekaman yang menjadi 'Jantung' gedung tua tersebut.

Di ruangan nan megah buatan tahun 1984 inilah, kebangkitan Lokananta di abad ke-21 akhirnya mulai terpacu.

Melalui prakarsa Glenn Fredly di tahun 2012, gerakan untuk menggalakkan kembali Lokananta pun dimulai.

Lewat gerakan inilah, sejumlah musisi kemudian mengikuti langkah Glenn.

Pada 2013 misalnya, Pandai Besi, salah satu proyek dari band Efek Rumah Kaca merekam lagunya di Lokananta dan menghasilkan album "Daur Baur".

Selang beberapa waktu kemudian band-band tersohor di tanah air seperti White Shoes and The Couples Company, Shaggydog, hingga The Hydrant kemudian meramaikan lagi Lokananta dengan berbagai warna musik yang diusungnya.

Semenjak itulah, Lokananta kini seperti mengalami "renaissance" keduanya dengan musik-musik independen sebagai fondasi dasarnya.

Usai mengunjungi studio dan berbincang-bincang dengan beberapa karyawan yang ada, Tribun kemudian mengakhiri kunjungannya.

Bagi anda yang tertarik untuk menikmati koleksi sejarah musik tanah air yang ada di Lokananta, Kunjungan dapat dilakukan pada hari Senin hingga Jumat dari jam 08.00 WIB sampai 16.00 WIB. (TribunSolo.com/Bobby Wiratama)

TONTON JUGA:

Editor: Radifan Setiawan
Reporter: Bobby Wiratama
Videografer: fajri digit sholikhawan
Video Production: fajri digit sholikhawan
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018 About Us Help