Minta Daya Tampung Sekolah Ditambah, 65 Orangtua Murid Gelar Aksi di Kantor Disdik Kota Depok

Kamis, 12 Juli 2018 11:51 WIB
Kompas.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Sebanyak 65 orangtua murid menyampaikan aksi protesnya di Kantor Dinas Pendidikan Kota Depok terkait banyaknya warga miskin Depok yang ditolak dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Rabu (11/7/2018).

Menurut para orangtua yang menggelar aksi itu, anaknya tidak diterima di sekolah di Depok padahal tempat tinggal mereka tidak jauh dari SMP negeri atau satu zona dan mereka berstatus warga miskin.

Dalam menggelar aksi tersebut, para orangtua yang didominasi ibu-bu ini membawa spanduk yang bertuliskan

"Stop Tolak Siswa Miskin di Sekolah Negeri". Kami minta hak kami untuk bersekolah di negeri, negeri itu untuk kami warga miskin," ujar para orangtua yang beraksi tersebut di Kantor Dinas Pendidikan Kota Depok, Rabu (11/7/2018).

Salah satu peserta aksi, Sophia (50), warga Beji Timur, RT 004/ RW 014, mengatakan bahwa sekolah SMPN 5 hanya berjarak 50 meter dari rumahnya. Namun, ia tidak diterima di SMP negeri itu.

"Saya menuntut hak saya kalau pakai zonasi nilainya ditambah 100, rumah saya sudah dekat dengan sekolah loh tinggal jalan doang, persyaratan sudah terpenuhi, anak saya yatim, masak enggak diterima," ucap dia.

Sophia mengatakan, pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga tidak akan mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta karena biayanya yang lebih mahal.

"Mana mampu mbak sekolah di swasta, banyak pengeluaran," kata dia.

Ia pun meminta Pemerintah Depok untuk tidak membatasi siswa miskin mendaftar di sekolah negeri dan meminta daya tampung sekolah negeri untuk siswa miskin ditambah.

Sophia merasa kecewa karena anaknya tidak diterima di sekolah negeri.

Apalagi, kata dia, tidak ada alasan jelas mengenai penolakan tersebut.

"Berkas saya dipulangin mbak cuma ada tulisan tidak diterima, saya saja enggak tahu alasan saya tidak diterima padahal saya dekat rumah, persyaratan semua terpenuhi," ujar dia.

Senada dengan Sophia, Sri (45), mengaku sudah menyampaikan berkas lengkap sesuai persyaratan tetapi ditolak.

"Saya kurang apalagi mbak semua persyaratan sudah ada, KIP/SKTM, Kartu Keluarga Depok , surat pertanggungjawaban mutlak juga sudah. Mau persyaratan bagaimana lagi," ucap dia.

Ibu anak lima ini meminta pemerintah membuka lagi pendaftaran PPDB online untuk warga miskin dan memberikan solusi atas kekacauan yang terjadi.

"Buka lagi dong pendaftarannya buat kita yang miskin ini, kita mana mampu buat sekolah anak di swasta, buat makan saja pas-pasan. Kita saja milih sekolah yang dekat supaya enggak buang-buang ongkos," ujar dia.

PPDB di Depok mulai dibuka online pada 10 Juli-12 Juli 2017. Total kuota penerimaan siswa baru di jalur akademik yang disediakan pada PPDB online sebanyak 65 persen dari jumlah peserta didik yang diterima.

Pada PPDB SMP tahun ini, diterapkan sistem zonasi. Artinya siswa yang rumahnya lebih dekat dengan sekolah mendapatkan poin lebih besar.

Pada sistem ini berlaku ring 1-10. Ring satu mendapatkan poin 50, dan yang terkecil lima.

Di luar jalur akademik, ada jalur non akademik yang diperuntukkan bagi siswa miskin, siswa berprestasi dan siswa yang dilindungi undang-undang.

Pendaftaran untuk siswa di jalur ini sudah dilakukan pada 19-20 Juni. Kuota siswa miskin di setiap SMP minimal 20 persen.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Rumah Dekat Sekolah, Syarat Terpenuhi, Anak Saya Yatim, Masak Enggak Diterima?"

Editor: Novri Eka Putra
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018 About Us Help