Terkait Pidato Politik yang Disampaikan Agus, Habiburokhman: Orasi AHY Menurut Gua Paling Baik

Rabu, 13 Juni 2018 12:02 WIB
Tribun Video

TRIBUN-VIDEO.COM - Kabid Advokasi dan Anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra, Habiburokhman pujian terakait pidato politik yang dilakukan oleh Agus Harimurti Yudhoyono.

Hal tersebut ia ungkapkan melalui akun Twitternya @habiburokhman pada, Selasa (12/6/2018).

Habiburokhman menilai bahwa orasi yang dilakukan oleh AHY paling baik.

Ia juga mengatakan sistematika pidatonya bagus, intonasi pun juga tidak berlebih.

Baca: Bocah 5 Tahun Dilaporkan Hilang, Ternyata Dibunuh dan Dirudapaksa Sepupunya yang Masih Remaja

Melihat orasi yang dilakukan AHY, Habiburokhman teringat pidatonya pada zaman dahulu yang pernah ia lakukan.

@habiburokhman: "Diantara anak2 mantan Presiden/Presiden aktif orasi AHY menurut gua paling baik. Sistematika bagus, intonasi pas, substansi ok. Jadi ingat zaman gua 98 dulu orasi di depan massa."

Diketahui sebelumnya, Ketua Komandan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono melakukan orasi politik, di Hall Jakarta Convebtion Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat.

Orasi tersebut bertajuk 'Dengarkan Suara Rakyat'.

Berikut penggalan orasi AHY:

Assalamualaikum WR. WB.

Hadirin yang saya muliakan,

Pertama-tama, marilah kita bersyukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala nikmat dan keberkahan-Nya. Sambil terus menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, mari kita sejenak melakukan refleksi terhadap apa yang terjadi di negeri kita akhir-akhir ini.

Bulan lalu, kita menyaksikan sejumlah peristiwa yang cukup mengguncang negeri dan menyita perhatian internasional. Dalam situasi ekonomi yang tidak mudah, masyarakat kita dihentakkan oleh gangguan dan ancaman keamanan.

Insiden di Mako Brimob Kelapa Dua yang diikuti serangkaian bom bunuh diri di sejumlah gereja di Surabaya, serta terjadinya serangan teror terhadap aparat keamanan di beberapa wilayah adalah peringatan keras untuk kita semua.

Kita merasakan duka cita yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa. Utamanya, mereka yang sedang beribadah. Dan mereka yang sedang menjalankan tugas. Kita juga mengutuk keras, segala bentuk aksi teror di muka bumi ini. Kita tidak boleh kalah menghadapi terorisme dan tujuan-tujuannya.

Kita kalah, apabila aksi teror itu membuat kita terpecah belah dan saling mencurigai satu sama lain. Kita juga kalah, apabila dalam upaya melawan terorisme ini kita justru terpancing untuk menggunakan cara-cara teroris. Cara-cara yang berada di luar hukum, dan melanggar hak-hak dasar warga negara.

Terrorism has no religion. Terorisme tidak punya agama. Terorisme adalah musuh semua agama. Terorisme musuh kita semua.

Kita mengapresiasi langkah-langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah dan DPR. Baik melalui aksi penanggulangan terorisme oleh TNI/Polri di lapangan, maupun upaya legislatif melalui pengesahan Undang-Undang Anti Terorisme.

Tetapi apresiasi saja tidak cukup. Kita jangan diam!

Sebagai warga bangsa, kita patut membantu upaya pemerintah dan DPR untuk mengatasi permasalahan keamanan ini. Negeri ini milik kita semua. Bukan hanya milik mereka yang berada di pemerintahan maupun di parlemen. Artinya, kita semua punya hak dan kewajiban. Serta secara moral, turut bertanggung jawab untuk mencari solusi terhadap berbagai persoalan di negeri ini. Tidak hanya dalam isu-isu keamanan negara, tetapi juga aspek-aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara lainnya.

Saya meyakini, untuk memahami permasalahan dan aspirasi rakyat, kita semua harus sebanyak-banyaknya turun ke lapangan. Bertemu langsung, menyapa, dan mendengarkan suara rakyat. Suara yang jujur. Suara yang apa adanya. Dari hati, tanpa dimanipulasi. Malam hari ini, izinkan saya mewakili segenap kader Partai Demokrat di manapun berada untuk menyampaikan dan menggemakan suara rakyat Indonesia.

Saudara-Saudara,
Tiga hari setelah pidato politik pada Rapimnas Partai Demokrat bulan Maret yang lalu, saya langsung turun ke lapangan. Mengunjungi masyarakat Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Lampung, Sumatera Utara, dan tentunya DKI Jakarta. Ini melengkapi perjalanan saya keliling nusantara selama satu tahun terakhir, ke ratusan kabupaten/kota di 22 provinsi, dari Aceh hingga Papua.

Simak videonya di atas! (*)

TONTON JUGA:

Editor: Ramadhan Aji Prakoso
Reporter: Ramadhan Aji Prakoso
Video Production: Ramadhan Aji Prakoso
Sumber: Tribun Video
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018 About Us Help