3 Mahasiswa Surabaya Incaran FBI Ditangkap karena Peretasan, Untung Rp200 Juta Setahun, Ini Modusnya

Rabu, 14 Maret 2018 09:16 WIB
Tribun Video

TRIBUN-VIDEO.COM - Tiga mahasiswa jurusan Teknologi Informasi (IT) di Surabaya yang diincar Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) ditangkap.

Dilansir Tribun-Video.com dari Surya, Rabu (14/3/2018), FBI bekerjasama dengan Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya dalam penangkapan ini.

"Jadi targetnya memang ada enam orang (tersangka) utama, tapi kemarin hanya menangkap tiga," terang Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

Ketiga mahasiswa yang merupakan kelompok Surabaya Black Hat (SBH) itu ditangkap di rumahnya masing-masing, Minggu (11/3/2018).

KPS (21) dan ATP (21) ditangkap di Kecamatan Sawahan, sedangkan NA (21) di Kecamatan Gubeng.

Ketiganya telah meretas lebih dari 600 website dan sistem data elektronik di 40 negara.

Negara-negara tersebut di antaranya Thailand, Australia, Turki, UEA, Jerman, Prancis, Inggris, Swedia, Bulgaria, Ceko, Taiwan, Tiongkok, Italia, Kanada, Argentina, Pantai Gading, Korea Selatan, Chili, Kolombia, India, Singapura, Irlandia, Meksiko, Spanyol, Iran, Nigeria, Rusia, Selandia Baru, Rumania, Uruguay, Belgia, Hongkong, Albania, Dubai, Vietnam, Belanda, Pakistan, Portugal, Slovenia, Kep Karibia, Maroko, dan Lebanon.

Tersangka merusak sistem lalu memeras korban melalui email.

"Pembayaran dilakukan melalui akun paypal atau akun bitcoin. Apabila korban tidak mau membayar maka tersangka akan menghancurkan sistem milik korban," ujar Kombes Argo saat dihubungi Surya, co.id, Selasa (13/3/2018).

"Sesuai pengakuan tersangka, pendapatan yang mereka peroleh dalam kejahatan selama tahun 2017 berkisar antara Rp 50 juta – Rp 200 juta," tambahnya.

Selain itu, tersangka juga mengaku meretas dengan dalih melakukan penetration testing pada suatu sistem, spserti dikutip Tribun-Video.com dari Kompas.com, Selasa (13/3/2018).

"Kamu punya sistem nih, kamu wartawan Kompas. Saya akan kirim dulu ke admin nama saya Roberto. Saya punya sertifikat ethical hacker, saya mau mengadakan penetration testing, saya akan punya 3 IP yang akan saya pakai 3 IP Address anda mengizinkan atau tidak itu terserah Anda, itu yang legal," terang Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu.

Ethical hacker baru akan melakukan penetration test jika admin mengizinkan.

"Lha, kalau ini kayak orang mau masuk rumah tapi enggak izin. Dia main hack saja lalu mengirimkan e-mail kepada admin sebagai pemberitahuan kalau sistemnya telah diretas dan minta uang tebusan. Ini cuma lima menit prosesnya," kata dia.

Rama Zeta, penasehat komunitas SBH menyebut bahwa KPS, NA, dan ATP memang merupakan anggota komunitasnya, namun sudah tidak aktif.

"Aktif tahun lalu, non aktif awal tahun januari. Anggota tetap tiap tahun rotasi," terang Rama Zeta ketika dikonfirmasi SURYA.co.id, Selasa (13/3/2018).

Atas perbuatannya, para tersangka terancam hukuman 8 hingga 12 tahun penjara, sesuai dengan jeratan pasal 30 jo 46 dan atau pasal 29 jo 45B dan atau 32 Jo Pasal 48 UU RI No 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Simak video di atas.(Tribun-Video.com/Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana)

Tonton juga:

Editor: fajri digit sholikhawan
Reporter: Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Video Production: fajri digit sholikhawan
Sumber: Tribun Video
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved