Kala Nelayan tak Lagi Gunakan Lampara

Jumat, 12 Januari 2018 20:04 WIB
Banjarmasin Post

TRIBUN-VIDEO.COM,KOTABARU - Duduk lesehan beralaskan apar, Enje Sitah (70) tampak serius. Tangan kanannya begitu kecakatan memisahkan ikan dan udang hasil tangkapan nelayan yang baru dibelinya untuk proses dijakan ikan asin.

Mengenakan dastar kuning motif kembang warna merah, Enje Sitah salah satu dari belasan perempuan parubaya yang sejak puluhan tahun menggeluti usaha sebagai pembuat ikan kering di Desa Rampa, Kecamatan Pulaulaut Utara Kotabaru.

Telah terbiasa karena kegiatan digeluti selama puluhan tahun. Ikan dan udang semula menyatu saat dibeli dari nelayan yang datang melalut, hanya sekitar dua jam ikan dan udang kecil itu pun berhasil di pisahkan di wadah terpisah.

Untuk udang dimasukan ke dalam baskom berukuran sedang. Sedangkan ikan di letakan di lantai sebelum dibersihkan dan diproses menjadi ikan kering melalui sistem pemajaan selama beberapa hari sebelum di jemur.

Sementara udang berukuran kecil yang tadinya di tempatkan di baskom, terlebih dulu dicuci sebelum dibuang kulit dan kepalanya selanjutnya dibawa ke penampung untuk dijual.


Enje Sitah seorang perempuan paru baya berstatus belum bersuami ini. Meski usia lebih setengah abad, namun fisik tubuhnya masih sangat prima.

Bagi Enje Sitah, duduk lesehan hanya beralaskan apar terbuat dari papan dan balok setinggi sekitar 5 sentimeter. Selama berjam-jam duduk dan setiap hari, tidak membuatnya letih apalagi mengeluh.

Malah sebaliknya perempuan paru baya ini tampak lebih energik, meski kulit keriput yang membalut tubuhnya tampak terlihat urat-urat menyembul dari kedua tangannya yang terus cekatan.

Sesekali pula, ia berdiri untuk mengusir rasa penat. Sambil menghisap sebilah rokok daun yang diapit di antara kedua jarinya.

"Inilah setiap hari pekerjaan ku. Sudah lama, puluhan tahun membuat ikan kering," tutur Enje Sitah, salah satu dari belasan perempuan paru baya bekerja sebagai pemeroses pembuat ikan kering.

Pekerjaan sebagai pembuat ikan kering, Enje Sitah tidak melakukan seorang diiri. Tapi, pekerjaan tersebut dilakukan secara gotong royong.

"Yang kerja di sini semuanya masih satu keluarga. Rata-rata janda semua. Ada yang suaminya meninggal sudah puluhan tahun," ucapnya.

Ditambahkan Enje Sitah, pekerjaan membuat ikan kering dilakukan bersama-sama dalam satu keluarga karena tidak ada pekerjaan dan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Ikan dibeli dari nelayan, setelah diproses menjadi ikan kering lebih dahulu dikumpulkan di dalam gudang. Setelah terkumpul ikan lalu dikirim ke Banjarmasin dan Alibio untuk pakan bebek.

Kendati dalam sebulan, ikan yang dikirim tidak lebih dari dua ton. Tapi, Enje Sitah merasa bersyukur karena penghasilan dari pekerjaan itu bisa menutupi kebutuhan hidup setiap hari.

Walau, tutur Enje Sitah lagi, penghasilan penjualan ikan kering harus mereka bagi rata dengan 11 orang yang ikut dalam kegiatan itu.

"Setiap bulan dapat saja satu orang Rp 500 ribu. Tergantung hasil tangkapan nelayan juga bila banyak, ya banyak juga ikan yang dikirim," jelasnya enggan menyebutkan berapa harga perkilo ikan yang dijual.

Enje Sitah, termasuk yang paling dihormati di antara 11 perajin ikan kering. Bersyukur meski penghasilan didapat sebulan sekali, hanya cukup biaya hidup serta biaya pendidikan bagi yang memikiki anak.

Karena untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Enje Sitah dan belasan familinya bisa menjual udang kecil ke pengumpul.

"Walau kadang hasil menjual udang, masing-masing kami hanya mendapat bagian Rp 20 ribu. Selain kadang ada nelayan yang meminta disiangkan udangnya, hasil penjualanya dibagi lagi, ya itulah untuk tambahannya," ungkapnya.

Hanya yang membuat Enje Sitah dan Jainah (65) sedikit cemas. Pekerjaan digeluti selama puluhan tahun bakal tidak lagi mendapat penghasilan untuk kebutuhan hidup.

Karena pemerintah telah memberlakukan larangan penggunaan lampara dasar, alat tangkap nelayan yang selama ini masok bahan baku pembuatan ikan kering.

"Kalau lampara tidak boleh lagi, tidak tahu bagaimana nasib kami. Apalagi yang tidak punya suami seperti saya. Nanti kami mau makan apa," timpal Jainah.

Apalagi di Desa Rampa, tambah Jainah lagi, selaih kelompok mereka. Ibu-ibu yang rata-rata berstatus janda, berjumlah puluhan orang juga bekerja sebagai pembuat ikan.

"Kalau 50 orang lebih. Bila tidak ada ikan dari tangkapan nelayan bekerja apa lagi kami," tandasnya.(Banjarmasin Post/Helriansyah)
Editor: Tri Hantoro
Video Production: Tri Hantoro
Sumber: Banjarmasin Post
Tags
   #Kotabaru
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018 About Us Help