Sukadi Benar-benar Kaya Mendadak, Muntahan Paus Penemuannya Sudah Laku Rp 3,3 Miliar

Selasa, 14 November 2017 10:20 WIB
TribunWow.com

TRIBUN-VIDEO.COM -- Di tengah ramainya pemberitaan tentang Sukadi, nelayan asal Bengkulu penemu muntahan paus (Ambergris) bernilai mahal, akun Facebook Yandi Febriansah, mengunggah kabar lain lewat potongan koran Rakyat Bengkulu(RB), Sabtu (11/11/2017).

Kabar tersebut adalah berita terjualnya muntahan paus yang ditemukan Sukadi.

"Kaya Mendadak Berkat Muntahan Ikan Paus," demikian judul artikel di potongan koran yang diunggah Yandi.   

Di dalam artikel itu diceritakan muntahan puas milik Sukadi telah terjual 150 kilogram dengan harga Rp 3,3 miliar atau per kilonya Rp 22 juta.

Kini, kata Sukadi dalam artikel itu, muntahan tersebut masih tersisa 200 kilogram lagi.

Berita muntahan paus Sukadi laku terjual 150 kilogram Rp 3,3 miliar.
Berita muntahan paus Sukadi laku terjual 150 kilogram Rp 3,3 miliar. (Capture Facebook Yandi Pebriansah)

  
Sebelumnya diberitakan nelayan asal Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, ini menemukan 200 kilogram muntahan paus pada Kamis 2 November 2017.

Jika benar telah terjual 150 kilogram, berarti Sukadi menemukan sekitar 350 kilogram, karena di rumahnya masih tersimpan 200 kilogram.

Muntahan pausditemukan Sukadi dalam kondisi mengapung di tengah Samudra Hindia.

"Awalnya saya sedang melaut bersama empat rekan. Tepatnya antara Pulau Dua dan Pulau Enggano saya melihat muntahan itu berserak di tengah laut," kata Sukadi saat dihubungi Kompas.com, Senin (13/11/2017).

Sukadi, penemu diduga muntahan paus atau Ambergris.
Sukadi, penemu diduga muntahan paus atau Ambergris. (Capture)

Sukadi mengatakan, awalnya ia tidak tahu bahwa benda yang mengapung itu adalah muntahan paus.

Ia berinisiatif mengecek titik koordinat menggunakan global positioning system (GPS).

Sukadi mengira benda yang bertebaran itu adalah limbah.

"Saya cek GPS, saya kira itu limbah, lalu saya pungut dengan harapan membersihkan laut dari limbah," ucapnya.

Namun, saat benda tersebut ia kumpulkan di perahu lalu dibawa ke darat, baru diketahui jika itu adalah muntahan paus.

Sukadi juga tidak mengetahui bahwa benda tersebut bernilai mahal. 

Ia tahu setelah ia mengecek di video Youtube.

"Saya baru sadar, yang saya temukan itu adalah muntahan ikan paus bernilai mahal, maka hebohlah. Kalau saya biasa saja tidak heboh, tetapi orang lain banyak yang heboh," ujarnya.

Diduga Ambergris muntahan paus bernilai mahal yang ditemukan <a href='http://www.tribunnews.com/tag/nelayan/'>nelayan</a> asal Bengkulu.
Diduga Ambergris muntahan paus bernilai mahal yang ditemukan nelayan asal Bengkulu. (Capture)

Sejauh ini benda yang diduga muntahan paus tersebut masih ia simpan di rumah dan belum ada yang terjual.

"Masih ada di rumah. Saya simpan sekitar 200 kilogram. Belum ada yang terjual, tetapi kalau ada yang berminat serius dengan harga yang cocok, maka saya jual," ucapnya.

"Sudah banyak yang menghubungi saya namun belum cocok harga. Saya ingin di atas Rp 22 juta per kilogramnya, minimal Rp 30 juta per kilo lah," ujar Sukadi, seperti dilansir dari harianrakyatbengkulu.com.

Ia menjelaskan, warna muntahan paus itu putih bercampur kekuningan.

Jika dirasa, seperti memegang lilin.

Saat dipanaskan, ia akan meleleh dan dapat digunakan untuk menghidupkan api.

Dalam beberapa literatur, muntahan paus berharga cukup mahal per kilogramnya, puluhan hingga ratusan juta.

Ambergris merupakan zat yang menumpuk di dalam usus paus.

Lama menumpuk dalam perut paus, zat tersebut menjadi padat seperti lilin dan berbentuk bongkahan.

Ambergris berbentuk solid seperti lilin dan mudah terbakar.

Zat ini sangat baik digunakan sebagai bahan pembuat parfum.

Sebuah akun twitter @alamayucos memposting satu botol parfum mengandung Ambergris.

Ambergris yang terbuat dari muntahan ikan paus dijual seharga Rp 200 juta Kg.

Mahalnya harga parfum dari muntahan ikan paus ini karena jadi favorit kalangan selebritis dunia.

Karena wangi Ambergris bertahan lama sehingga harganya pun sangat tinggi.

Diduga Ambergris atau muntahan paus.
Diduga Ambergris atau muntahan paus. (Capture)
 

Harga Miliaran

Dilansir Mirror.co.uk pada Agustus 2016, pasangan dari Lancashire, Inggris, Gary dan Angela pernah menemukan muntahan ikan paus.

Mereka menemukan muntahan paus di pinggiran Pantai Middleton tak jauh dari tempat tinggal mereka sekitar April.

Awalnya Gary-Angela jijik melihat benda lembek dengan bau tak sedap.

"Seperti bau kotoran manusia bercampur dengan muntahan," ujarnya.

Tapi ia menyadari benda itu bukan sekadar kotoran.

Ia kemudian membawanya pulang.

Benda itu rupanya Ambergris seharga 930 pound sterling atau setara hampir Rp 1 miliar.

Kenapa Ambergris dibanderol dengan harga yang mahal?

Konon, muntahan paus banyak dicari oleh produsen parfum ternama lantaran ambergris mampu menghasilkan wewangian yang dapat bertahan hingga sangat lama.

Untuk memastikan batu lembek dengan bau tak sedap itu adalah muntahan paus, Anda harus mengujinya apakah mudah terbakar atau tidak.

Jika mudah terbakar, kemungkinan itu adalah muntahan paus yang terdampar di pantai.

Setiap paus memiliki ambergris yang berfungsi melindunginya dari memakan-makanan yang tak semestinya dimakan.

Jadi, cobalah kenali ambergris. Karena jika beruntung menemukan muntahan paus, Anda akan menjadi miliarder dadakan.

Ada Fenomena Lain

Dosen kelautan pengasuh mata kuliah Oseanografi dan Istiologi (ilmu tentang ikan) Universitas Bengkulu, Zamdial Sj, saat dihubungi Kompas.com mengatakan tidak ada dalam kebiasaan (habit) ikan paus muntah.

Ikan paus, menurut dia, ada yang memakan ikan kecil, udang, dan plankton.

Sepanjang pemahaman yang dimilikinya, kebiasaan sehari (daily activity) paus tidak ada muntah.

Jika muntah, diperkirakan ada fenomena lain dari paus.

"Bisa jadi ia muntah karena salah makan. Misalnya termakan sampah plastik, tetapi itu jarang terjadi," katanya.

Terkait muntahan paus berharga ratusan juta, dirinya menyebutkan belum mengetahui.

"Saya tidak tahu muntahan paus itu apa dan memiliki nilai jual tinggi. Yang harus dipastikan apakah benar yang ditemukan nelayan itu muntahan paus? Mungkin itu limbah dari fenomena alam lain, dibutuhkan penelitian lebih lanjut," ujarnya.(*)

TONTON JUGA:

Editor: Sigit Ariyanto
Reporter: Mohamad Yoenus
Video Production: Sigit Ariyanto
Sumber: TribunWow.com
Tags
   #Paus   #Bengkulu   #nelayan
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017 About Us Help