Bersih-bersih Partai Golkar, Demi Elektabilitas Atau untuk Setnov?

Jumat, 13 Oktober 2017 16:55 WIB
Tribunnews.com (SFR)

TRIBUN-VIDEO.COM - Partai golkar, melakukan bersih-bersih internal. Sejumlah tokoh penting di partai berlogo pohon beringin tersebut, diganti.

Setidaknya dua pensiunan jenderal naik jadi pengurus DPP Partai Golkar. Mereka adalah adalah Letjen TNI (Purn) Eko Wiratmoko sebagai Korbid Polhukam menggantikan Yorrys Raweyai, dan Komjen Pol (purn) Anang Iskandar menjadi Ketua Bidang Litbang Partai Golkar.

Kehadiran mereka, menambah jumlah pensiunan jenderal yang menjadi pengurus DPP Golkar. Sebelumnya, satu mantan jenderal telah ditunjuk sebagai Korbid Kajian Strategis dan SDM Partai Golkar, ia adalah mantan Danjen Kopassus, Letjen (Purn) Lodewijk Freidrich Paulus.

Menurut Sekjen Partai Golkar, Idrus, Marham, partainya tengah melakukan revitalisasi pengurus. Hal itu bebernya, merupakan keputusan rapat pimpinan nasional Partai Golkar yang pertama.

"Mandat kepada ketua umum untuk melakukan revitalisasi setelah melalui kajian kajian dan bahasan secara mendalam di rapat pimpinan nasional yang pertama," jelas Sekertaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Golkar, Idrus Marham saat memberikan keterangan usai rapat pleno di kantor DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Neri, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (11/10/2017).

perombakan kepengurusan yang dilakukan DPP Partai Golkar, menurutnya adalah untuk meningkatkan kinerja partai.Terlebih, masa kerja Ketua Umum Golkar Setya Novanto tinggal 1,5 tahun lagi.

"Di sisi lain kepengurusan ini perlu efektivitas perlu solidaritas dalam rangka menjamin akselerasi kerja hasil akhir kinerja DPP Partai Golkar untuk mencapai target target politik baik menghadapi Pilkada 2018 maupun Pemilu serentak di tahun 2019," tuturnya.

"Harapan ketua umum dengan revitalisasi ini ada jaminan bahwa kebersamaan soliditas kemudian konsolidasi dan dan lain sebagainya terjadi pada Partai Golkar," lanjut Idrus.

Dalam rapat pleno yang digelar oleh Partai Golkar baru-baru ini, juga diputuskan bahwa Setya Novanto diputuskan untuk kembali menjadi Ketua Umum Partai Golkar.

Setnov, sebelumnya, sempat menjadi tersangka kasus korupsi elektronik di KPK. Namun statusnya gugur dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Baik revitalisasi dan penunjukan kembali Setnov sebagai Ketum Partai Golkar dikritik oleh sejumlah kader dan simpatisan partai Golkar.Salah satunya adalah anggota Generasi Muda Partai Golkar (GMPG), Almanzo Bonara.

Almanzo mengatakan jika revitalisasi tersebut sama saja dengan pemecatan kader, hanya redaksional saja yang diperhalus namun subtansinya tetap sama.

"Pemecatan atau revitalisasi yang dimaksud tak lain hanya untuk mengamankan kepentingan pribadi Setya Novanto sebagai ketua umum partai Golkar, bukan untuk menyelamatkan partai Golkar dari serangkaian persoalan korupsi," ujar Almanzo melalui pesan singkat, Kamis (12/10/2017).

Ia tidak melihat perlunya revitalisasi pengurus untuk memulihkan citra partai sebagaimana yang diucapkan oleh elit DPP, disaat skandal E-KTP masih terus melilit ditubuh partai Golkar.

Bahkan itu tidak mengembalikan tingkat kepercayaan publik yang sangat negatif terhadap Golkar dibawah kepemimpinan Setya Novanto.

"Semangatnya yang kami lihat adalah hanya memecat dan menggeser para kader yang dianggap kritis mempersoalkan dan membongkar keterlibatan Setya Novanto dalam skandal Korupsi E-KTP. Padahal mereka adalah para kader potensial yang berfikir untuk kemajuan partai, disatu sisi kader yang sudah divonis korupsi pun masih dipertahankan," kata Almanzo.

Menurut Almanzo, persoalan hancurnya citra partai Golkar akibat skandal korupsi E-KTP, tidak bisa dengan mudah diselesaikan begitu saja melalui proses revitalisasi struktural.

Sekarang, perspektif publik terhadap partai Golkar adalah partai bermasalah, tidak bersih serta sarat dengan korupsi, hal ini sangat merugikan dan menurunkan elektabilitas partai.

Sehingga bagi GMPG, yang menjadi urgensitas seharusnya adanya perevitaliasian kepimpinan baru partai Golkar yang bersih, yaitu dengan pergantian ketua umum partai melalui proses Munas.

Revitalisasi kepemimpian baru diharapkan menjadi jalan terbaik untuk membenahi kondisi partai Golkar.

"Sehingga kepercayaan diri para kader Golkar untuk dapat berkiprah dipentas politik nasional maupun lokal jelang kontestasi demokrasi kembali lagi," ujar Almanzo.

Lebih lanjut, jika revitalisasi pengurus dilakukan dengan tujuan hanya untuk mendukung Setya Novanto pada posisi sebagai ketua umum, Almanzo percaya partai ini akan mendapat penolakan penuh dari masyarakat luas.

Kritikan juga datang dari Ketua Bidang Pemenangan Pemilu wilayah Sumatera-Jawa, DPP Partai Golkar, Nusron Wahid.

Ia mengaku tak setuju dengan pemecatan Yorrys Raweyai sebagai Koordinator Polhukam Golkar.

"Saya enggak setuju (pemecatan Yorrys Raweyai). Situasi kayak gini kita tidak boleh mecat orang, nambah orang boleh," ucap Nusron Wahidditemui usai rapat pleno di Kantor DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Neri, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (11/10/2017).

Simak videonya di atas.(*)

Editor: Novri Eka Putra
Reporter: Srihandriatmo Malau
Cameraman: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Tribunnews.com (SFR)
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017 About Us Help