Kampung Ketupat Banjir Order Jelang Lebaran

Senin, 19 Juni 2017 16:58 WIB
Tribunnews.com

Laporan wartawan Sriwijaya Post, Yuliani

TRIBUN-VIDEO.COM, PALEMBANG - Jemari Mia (25) tampak begitu cekatan merangkai daun nipah menjadi ketupat.

Tak sampai satu menit, satu ketupat berhasil dijalin dengan rapi.

Ujung nipah yang kelebihan pun dipotong agar tidak semrawut dan dijadikan satu dengan puluhan ketupat lainnya yang sudah jadi.

Warga Kelurahan 3 Ulu Palembang ini mengaku, puluhan tahun keluarganya dan warga sekitar sudah terbiasa menganyam ketupat.

Tonton juga:

Segitunya! Begini Ulah Paspampres Ketika Warga Ajak Foto Bareng Jokowi

Bercanda dengan Anak Singa, Lihat yang Dialami Model Seksi Ini

Apalagi saat menjelang lebaran, produksi bisa di atas 300 buah untuk satu rumah.

"Biasanya banyak yang pesan seminggu sebelum lebaran. Terkadang dari pagi sampai sore tak berhenti menganyam ketupat," ujarnya saat ditemui Sripoku.com di kediamannya, Senin (19/6/2017).

Untuk bahan baku sendiri ia mengaku membeli per ikatan di laut.

Kata laut sendiri merujuk pada bantaran Sungai Musi yang tak jauh dari pemukiman mereka sehingga warga disana menjuluki sungai dengan laut.

"Satu kebat (ikat) besar harganya lima ribu. Kami pisahkan dulu dari lidi lantas dibersihkan. Hanya daun dengan kualitas baik dan lebar yang bisa dianyam menjadi ketupat," ungkapnya.

Tak hanya nipah, ia juga sering membuat ketupat dari daun pandan meskipun tidak diproduksi sebanyak daun nipah.

Karena harga pandan cukup mahal, sehingga ia tak berani membuat banyak kecuali ada yang pesan.

Mia mengaku, ketupat hasil buatannya dan warga sekitar sering dijual di pasar 16 maupun pasar-pasar kecil. (*)

Editor: Tri Hantoro
Video Production: Tri Hantoro
Sumber: Tribunnews.com
Tags
   #Lebaran
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017 About Us Help