Samanto Terbiasa Membawa Kuda Kepang Kesayangannya

Jumat, 12 Mei 2017 18:11 WIB
Tribun Jogja

TRIBUN-VIDEO.COM, YOGYAKARTA - Keramaian acara merti desa di desa Sumberrejo, Tempel, Sleman dihebohkan dengan seorang pria yang menunggangi kuda kepang.

Tinggi kuda yang terbuat dari bambu setinggi sekitar empat meter tersebut membuat perhatian ratusan masyarakat yang menonton tertuju ke situ.

Meski terlihat berat, namun pria berkulit keriput nan legam tersebut terlihat santai membawanya.

Ratusan warga desa Sumberrejo menggelar kirab dalam rangka merti desa di kawasan desa setempat, Kamis (11/5).

Masing-masing pedukuhan menampilkan ciri khasnya masing-masing dalam arak-arakan yang menempuh jarak sekitar 3 km tersebut.

Ada yang dandan ala musafir Arab, mengarak ogoh-ogoh, hingga penonton dikejutkan dengan seorang kakek yang naik kuda kepang berukuran jumbo.

Beberapa kali panitia menyerukan melalui megafon agar kakek tersebut berhati-hati ketika melintasi jalan dengan kabel yang bersliweran.

Namun, kakek yang kemudian diketahui bernama Samanto (61) tersebut terlihat tenang dan malah menebar senyuman ke penonton.

Tiba di lapangan desa setempat, Samanto segera menjadi sasaran foto oleh beberapa penonton.

Sambil membetulkan letak kacamatanya, ia ramah melayani permintaan mereka.

Tonton juga:

Mempelai Pria Bikin Terkejut Tamu Saat Ucapkan Maharnya

Perubahan Wanita Italia yang Mengejar Pria Batang, Begini Penampilannya Saat Menikah

Sambil berpose, tangannya yang berkeriput namun masih terlihat kekar memegangi kuda yang dicat warna merah tersebut.

Tak sekalipun ia membiarkan kudanya doyong ataupun meletakkanya di tanah.

"Memang kuda ini bisa awet asal tidak dibiarkan tergeletak di tanah. Saya membuatnya pada 1981, masih awet sampai sekarang," kata Samanto ketika awak media mewawancarainya.

Menurut Samanto, kuda kepang tersebut awalnya lebih tinggi dari yang sekarang.

Benda seberat 45 kg tersebut awalnya setinggi 5 meter.

Namun karena sering tersangkut di kabel listrik ketika mengikuti kirab budaya, maka ia terpaksa memotongnya.

"Sekarang tingginya 4 meter, panjang 3 meter. Biar nggak nyangkut lagi," imbuhnya.

Tidak seperti rombongan lain, Samanto percaya diri saja berjalan sendirian.

Maklum saja, bapak empat anak ini memang bukan warga setempat. Namun, ia mengaku sukarela meramaikan acara yang telah tiga kali digelar di Sumberrejo ini.

"Aslinya saya memang warga Blimbingan, Caturharjo. Tapi saya memang biasa tampil di banyak tempat. Sempat pula dulu diajak pentas di Jakarta," katanya.

Samanto memang aktif di kesenian Jathilan. Namun umur yang terus bertambah membuatnya harus mengatur aktivitasnya. Untuk saat ini, ia hanya ikut di kegiatan budaya di sekitar tempat tinggalnya.

Selain Samanto, merti desa Sumberrejo menampilkan banyak atraksi lain. Hasilnya, ratusan penonton memadati sepanjang jalan rute kirab dan lapangan desa dimana gunungan hasil bumi diperebutkan.

Kepala Desa Sumberrejo, Anjar Purwanto menjelaskan, acara kirab ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan merti desa sekaligus ulangtahun desa yang ke-71. Sejumlah acara digelar selama tiga hari mulai 9 hingga 11 Mei 2017.

"Yang pertama adalagh gelar potensi desa, dimana seluruh potensi desa diperkenalkan kepada umum. Kemudian, gelar budaya, dan ditutup pada hari ini dengan kirab. Harapannya, berbagai potensi yang ada di desa ini bisa dikenal luas oleh publik," katanya. (Tribun Jogja/Rento Ari Nugroho)

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Radifan Setiawan
Sumber: Tribun Jogja
Tags
   #Yogyakarta   #kirab budaya
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017 About Us Help