Jamu Gendong Unjuk Kebolehan Berlenggak Lenggok

Jumat, 21 April 2017 19:32 WIB
Warta Kota

TRIBUN-VIDEO.COM - Jamu tradisional merupakan kekayaan warisan budaya nenek moyang Indonesia jauh sebelum munculnya obat-obat pabrikan.

Namun, pada generasi sekarang, pamor jamu tradisional makin pudar. Beruntung masih ada para tukang jamu keliling yang eksistensinya mampu menjaga tradisi minum jamu oleh masyarakat.

Apresiasi terhadap para wanita penjual jamu gendong dihadirkan dalam sebuah kegiatan bertajuk Parade Laskar Wanita Jamu Gendong di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Acara ini digelar dalam rangka ulang tahun TMII ke 42.

Manager Administrasi TMII, Husaini, menyatakan, acara yang digelar rutin setiap tahun tersebut dimaksudkan untuk melestarikan jamu tradisional serta memberikan apreaiasi yang tinggi terhadap para perempuan penjual jamu gendong.

"Tanpa adanya para wanita penjual jamu gendong ini mungkin makin banyak generasi muda yang tidak kenal dengan jamu tradisional. Jadi, peran mereka sangatlah besar dalam melestarikan dan memasyarakatkan jamu tradisional," jelasnya di sela-sela acara, Jumat (21/4).

"Acara juga kami buat pada 21 April bertepatan dengan perayaan Hari Kartini karena kami ingin mengangkat peran para penjual jamu ini yang begitu besar dalam menjaga kelestarian jamu tradisional," imbuhnya.

Apresiasi yang tinggi juga diberikan karena para wanita penjual jamu gendong ini tetap teguh dan tidak malu menjalankan profesi itu di tengah modernisasi yang makin pesat ini.

Dengan penuh ketekunan, mereka yang umumnya berasal dari berbagai kota di Jawa Tengah itu tetap meracik jamu berkualitas di tengah serbuan jamu-jamu kemasan yang dijual di kios-kios atau swalayan.

"Bahkan di perkotaan seperti Jakarta ini masih banyak kita jumpai para wanita penjual jamu gendong ini. Kita patut berbangga atas hal itu dan itu kenapa TMII memberikan panggung kepada mereka agar masyarakat bisa melihat perjuangan mereka dalam melestarikan jamu tradisional," terang Husaini.

Dalam acara itu sebanyak 113 wanita penjual jamu gendong dari berbagai daerah unjuk kebolehan. Selain berparade di atas panggung dengan busana khas lengkap dengan property laiknya saat mereka berjualan, panitia juga menggelar lomba meracik jamu tradisional beras kencur dan kunir manis. Satu per satu tukang jamu itu menyajikan jamu racikan andalannya untuk dinilai oleh dewan juri.

Salah satu peserta, Indah Susiloningsih (47), mengaku sudah berjualan jamu gendong sejak 22 tahun lalu. Perempuan asal Wonogiri, Jawa Tengah, tersebut biasa berkeliling di wilayah Condet, Jakarta Timur, menjajakan jamu tradisional hasil racikannya.

"Alhamdulillah, jamu tradisional masih mendapat tempat di masyarakat. Saya setiap hari jualan di daerah Condet dan punya banyak pelanggan," jelasnya ditemui usai acara.

Menurutnya, jamu tradisional hasil racikan para tukang jamu gendong pamornya masih tinggi meskipun saat ini diberondong oleh jamu-jamu kemasan.

"Yang saya rasakan saat ini kehadiran kios-kios jamu yang jualan jamu sachet tidak begitu berpengaruh. Karena masih banyak orang yang lebih memilih jamu kami," ujarnya.

Dalam setiap berdagang, kata Indah, dua jenis jamu tradisional andalan para tukang jamu gendong yakni beras kencur dan kunir asem yang diracik sendiri oleh masing-masing penjual jamu.

"Kita belanja bahannya dan racik sendiri menjadi jamu. Jadi masih seger saat diminum," imbuh ibu satu anak itu.

Sementara itu, Darmi (53) yang menyaksikan acara itu mengaku takjub dengan kegigihan dan kesabaran para perempuan penjual jamu gendong

"Mereka jualan jamu dengan cara jalan kaki dan digendong, selalu mengingatkan saya pada kehidupan masa dulu dimana budaya masih dijunjung tinggi. Bayangkan, di antara gedung-gedung tinggi, mal dan kecanggihan teknologi, penjual jamu gendong masih bertahan. Ini luar biasa dan semoga selalu ada generasi penerusnya," ujarnya.(*)

Editor: Novri Eka Putra
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017 About Us Help