Wisata Kerbau Rawa Masih Diminati

Kamis, 30 Maret 2017 18:17 WIB
Banjarmasin Post

TRIBUN-VIDEO.COM, AMUNTAI - Wisata Kerbau Rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara masih mendapat perhatian bagi warga dari luar HSU.

Hewan endemik yang tinggal di daerah rawa ini mampu berenang. Meskipun mulai jarang yang mengunjungi wisata ini namun namanya masih tersohor hingga membuat orang penasaran ingin melihat.

Kerbau rawa hanya terdapat di Kecamatan Paminggir yang hampir seluruh bagian kecamatannya terdiri dari daerah rawa.

Tak heran jika ribuan kerbau rawa dipelihara dan dibudi dayakan disini.

Tonton juga:

Ceritalah Indonesia Gelar Diskusi dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia Solo

Puluhan Wanita Senam Cantik Ala Line Dance

Kecamatan Palinggir terdiri dari enam desa, diseluruh desanya terdapat kerbau rawa yang diternakkan, termasuk desa Bararawa.

Untuk menuju Desa Bararawa dari pusat kota amuntai, pengunjung harus menempuh perjalanan jalur darat sekitar 40 menit menuju Kecamatan Danau Panggang.

Meskipun cukup jauh, namun infrastruktur jalan sudah mulus sehingga bisa lebih cepat jika menggunakan kendaraan roda dua.

Di Kecamatan Danau Panggang akan menemui pelabuhan yang tak jauh dari pasar Danau Panggang, kendaraan bisa diparkirkan di sekitar dermaga, untuk yang menggunakan mobil juga ada parkir khusus untuk mobil.

Sesampainya di Kecamatan Danau panggang, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu motor atau speed boat karena tak ada akses darat menuju Desa Bararawa.

Jika pengunjung ingin menggunakan perahu motor biaya sewanya adalah Rp 400 ribu sudah sekaligus pulang pergi.

Namun jika ingin lebih cepat dapat menggunakan speed boat dengan biaya Rp 1,2 juta pulang pergi.

Meskipun cukup jauh dan biayanya cukup mahal namun masih ada yang ingin melihat ternak kerbau rawa.

Seperti Averus atau biasa disapa Verus warga Jakarta yang saat ini tinggal di Kabupaten Tabalong.

Dirinya bersama 13 rekannya ingin melihat wisata kerbau rawa karena merasa penasaran, saat melakukan pencarian diinternet sangat bagus sekali awannya yang cerah serta keunikan kerbau yang dapat berenang.

"Berangkat dari Tanjung sejak subuh, karena mengejar ingin melihat kerbau rawa yang dilepaskan dari kandangnya," ujarnya.

Verus juga membawa tiga orang warga asing dari Australia yang juga penasaran ingin melihat kerbau rawa HSU.

Selama perjalanan menuju Kecamatan Danau Panggang, dirinya menemui tiga pasar rakyat yang berada di bahu jalan, meskipun sedikit memperlambat perjalanan namun dirinya juga terhibur dengan melihat aktifitas masyarakat lokal HSU.

Verus bersama rombongan akhirnya memutuskan untuk menggunakan perahu motor untuk menuju Desa Bararawa.

Sempat khawatir karena pemilik kapal tidak menyediakan pelampung, namun akhirnya memberanikan diri setelah melihat banyak masyarakat lokal yang juga dengan santai didalam kapal meskipun tak menggunakan pelampung.

Sepanjang perjalanan disuguhkan dengan pemandangan yang indah, dari burung burung yang terbang serta monyet yang bergelantungan di pohon.

Meskipun berupa rawa, Kecamatan Paminggir juga memiliki hutan yang banyak dihuni oleh binatang liar.

"Diperjalanan juga asik apalagi saat berpapasan dengan kapal lainnya, riak air membuat kapal sedikit oleng dan mendebarkan hati," ujarnya.

Perjalanan menggunakan perahu motor dapat ditempuh dalam 40 menit, hingga sampai ke salah satu kandang kerbau rawa milik Fadillah.

Kandang kerbau hanya berupa bangunan panggung dari kayu yang memiliki lantai dan pagar namun tidak disertai atap. Bagian depan kandang dibuatkan jalan untuk kerbau rawa naik dan turun dari kandang juga terdapat pintu yang dikunci saat kerbau rawa di dalam kandang.

Jika ingin melihat kerbau rawa keluar kandang, pengunjung bisa menghubungi terlebih dulu pemilik kandang.

Karena biasanya kerbau rawa sudah dilepas pada pukul 07.00 hingga 08.00 pagi. Saat pintu dibuka, seluruh kerbau langsung menceburkan diri menuju air dan berenang mendekati rerumputan.

Moment ini langsung dimanfaatkan untuk mengambil gambar, dan melihat keseruan kerbau dari berbagai ukuran berenang.

"Padahal rawanya dalam, tapi kerbau bisa berenang dan mengapung sepanjang hari sambil mencari makan," ujar Verus.

Terpisah, Fadillah pemilik kerbau rawa mengatakan dirinya biasa menerima pengunjung yang ingin melihat kerbau rawa saat dilepaskan atau saat masuk kandang. "Lebih banyak yang ingin melihat saat kerbau masuk kandang sekitar jam 16.00, karena pemandangan Langit senjanya sangat bagus," ujarnya.

Meskipun sekarang sudah mulai jarang ada pengunjung yang ingin melihat kerbau rawa, Fadillah mengatakan ribuan kerbau dilepaskan untuk mencari makan sendiri.

Dirinya hanya membuka kandang, serta menggiring memasukkan kembali ke kandang saat sore hari.

Meskipun ratusan kerbau rawa bisa berkumpul di satu tempat, namun tak perlu cemas akan tertukar dengan kerbaumilik orang lain.

"Kerbau juga hidup berkelompok, selain itu juga setiap pemilik memberikan ciri yang berbeda kepada setiap kerbaunya dengan menyobek bagian telinga, biasanya berbentuk huruf atau hanya lubang dibagian bawah atau atas telinga.

Kerbau yang siap jual biasanya berumur dua tahun untuk betina, dan usia 4 tahun untuk pejantan.

Harganya sendiri disesuaikan dengan harga daging saat itu dan berat dari kerbau, dimana biasanya kerbau yang memiliki berat 80 kilogram akan dijual dengan harga Rp 15 juta.

Untuk yang jantan dijual dengan harga Rp 20 juta. "Paling jauh dijual ke Banjarmasin, paling sering dijual di Amuntai atau barabai," ungkapnya.(Banjarmasin Post/Reni Kurniawati)

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Sigit Ariyanto
Sumber: Banjarmasin Post
Tags
   #kerbau rawa   #Amuntai
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017 About Us Help