Suhaidi, Pembuat Aneka Kerajinan Etnik Dayak Meratus

Jumat, 17 Februari 2017 23:35 WIB
Banjarmasin Post

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - WARGA Dayak Meratus dikenal bijak dalam memperlakukan alam. Juga kreatif mengolah hasil alam menjadi aneka produk kerajinan etnik tradisional. Selama ini kita mengenal gelang simpai, anyaman bakul warna warni bermotif khas suku dayak. Lanjung dan butah (tas punggung dari anyaman rotan), mandau, kumpang (sarung mandau atau parang hingga pakaian dan topi berbahan kulit kayu.

Salah satu perajin yang mahir membuat aneka produk kerajinan etnik Dayak tersebut, adalah Suhaidi (25). Sudah lima tahun, pria yang tinggal di lereng Meratus, Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah ini menjadi perajin mandau, serta produk berbahan kulit kayu. Ditemui BPost di pondoknya (sebutan untuk rumah kecil) Selasa (14/2/2017) lalu, Suhaidi sedang menganyam tali dari kulit kayu untuk dibuat sarung mandau (senjata khas Kalimantan).

“Ini pesanan orang. Biasanya tiga hari selesai. Tapi kalau membuat mandaunya, sampai dua minggu,”tutur Suhaidi, yang tinggal dipondok bersama istrinya. Tak hanya menerima pesanan membuat sarungnya (cover) mandau. Suhaidi juga menerima pesanan membuat tas dari anyaman rotan dan bambu, serta kulit kayu. Kulit kayu yang digunakan adalah dari pohon upas, sehingga disebut kayu upas. Jenis kayu gunung yang serat kulitnya tak mudah robek.

Serat kayu itu oleh Suhaidi dibuat topi dan baju rompi, yang di kalangan warga Dayak Meratus dipakai untuk berburu binatang. Juga berfungsi sebagai pelindung tubuh dari masuk angin. Untuk mencari bahan-bahan kulit kayu, rotan dan bambu tersebut, Suhaidi mencari sendiri ke dalam hutan Meratus. Di dalam rumah kecilnya itu, aneka produk olahan tangannya disimpan dalam karung khusus.

Namun, dia bersedia memperlihatkan, jika ada tamu yang ingin melihat hasil karyanya tersebut.
“Dipesan atau tidak, dibeli orang atau tidak, saya tetap membuat kerajinan etnik leluhur kami ini,” kata Suhaidi.

Dia punya bakat otodidak dalam menciptakan karya seni tersebut. Di kalangan warga Dayak Meratus di Hantakan, Suhaidi memang dikenal serba bisa, atau punya kreativitas tinggi. Contohnya, mesin peraut rotan dan kayu upas, dia bikin sendiri dengan teknologi sederhana.

Untuk kulit kayu yang lebar, dihaluskan secara manual menggunakan palu, lalu dikeringkan. Selanjutnya, dijahit sendiri secara manual, menggunakan benang hingga menjadi baju rompi yang unik. “Sebenarnya saya juga bisa mengaplikasikan motif khas Dayak ke kain seperti halnya batik atau sasirangan. Sayang saya tak punya modal buat membeli kain dah bahan pewarnannya,” tutur Suhaidi.

Suhaidi menyatakan, karya-karyanya, baik berupa kumpang mandau bermotif, topi dan rompi kulit kayu, anyaman tas rotan dan bambu, hingga tas kulit kayu yang dia buat itu pernah dipamerkan oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Pada Desember 2016 lalu, warga Meratus pertama kalinya diberikan fasilitas stan pameran oleh pemerintah daerah di Barabai Expo 2016.

Suhaidi berharap, karya-karyanya itu dikenal masyarakat luas, paling tidak di Kalsel. Suhaidi pun berharap, pemerintah daerah lebih sering lagi melibatkan mereka dalam ajang promosi produk kerajinan daerah melalui pameran, baik di kabupaten maupun tingkat provinsi. “Selama ini saya terus membuat produk, dengan harapan suatu saat bisa mengembangkan usaha dari karya-karya saya ini,”katanya. (Banjarmasin Post/Hanani)

Tonton juga:

Beginilah Peran dan Cara Wanita Berpaspor Indonesia Membunuh Kakak Pemimpin Korea Utara

Tiara Dewi "Minta Itu" Kepada Sang Suami, Netizen: Bikin Gemas!

Editor: Tri Hantoro
Video Production: Tri Hantoro
Sumber: Banjarmasin Post
Tags
   #Dayak
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017 About Us Help